Sejumlah warga di Gorontalo melaporkan dugaan penipuan berkedok arisan ke Polda Gorontalo setelah pengelola arisan diduga menghentikan pembayaran dan sulit dihubungi.
***
BERINTI.ID, Gorontalo - Arisan sering dipromosikan sebagai cara sederhana untuk mengumpulkan uang bersama-sama. Modalnya cuma satu, yaitu saling percaya. Masalahnya, ketika kepercayaan itu hilang, yang tersisa biasanya bukan lagi daftar nama peserta, melainkan laporan polisi.
Itulah yang kini dialami sejumlah warga di Gorontalo yang mengaku menjadi korban dugaan arisan bodong yang dikelola seorang perempuan bernama Ayu Wahyuni Lambogia.
Nama tersebut kini dilaporkan ke Polda Gorontalo setelah komunikasi dengan para peserta arisan disebut tiba-tiba terputus.
Pendamping hukum korban, Ali Rajab, mengatakan jumlah korban yang diduga terlibat dalam perkara ini tidak sedikit. Bahkan, menurut perkiraannya, kerugian yang dialami para peserta bisa mencapai miliaran rupiah.
"Korban cukup banyak, ada ratusan orang. Kami perkirakan total kerugiannya mencapai miliaran rupiah karena ada yang kehilangan belasan juta, puluhan juta, bahkan sampai ratusan juta rupiah," kata Ali usai melaporkan perkara ini di Mapolda Gorontalo, Senin, 6 Juli 2026.
Namun begitu, kata Ali, korban yang didampingi itu mengalami kerugian mencapai belasan juta.
Lebih lanjut Ali mengatakan bahwa terlapor berdasarkan identitas kependudukan beralamat di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Namun, selama menjalankan aktivitas arisan tersebut, yang bersangkutan diketahui berdomisili di wilayah Isimu, Kabupaten Gorontalo.
Yang membuat perkara ini semakin rumit, kata Ali, arisan tersebut bukan baru berjalan beberapa bulan. Sebagian korban bahkan mengaku telah bergabung sejak 2025 dan pada awalnya tidak menemukan kejanggalan.
"Awalnya berjalan normal seperti arisan pada umumnya. Beberapa peserta bahkan sempat menerima pembayaran sesuai jadwal," tutur Ali.
Di kalangan peserta, sistem yang digunakan disebut tidak sekadar arisan biasa. Ada praktik jual-beli slot arisan yang membuat perputaran dana semakin kompleks.
Singkatnya, peserta yang sudah memiliki giliran atau kepemilikan tertentu bisa menjual hak arisannya kepada peserta lain. Dari sinilah nilai transaksi terus membesar.
"Model arisannya itu bukan sekadar setor lalu menunggu giliran. Ada juga yang menjual arisannya kepada orang lain," kata Ali.
Korban yang terlibat pun berasal dari berbagai latar belakang. Tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga disebut ada anggota kepolisian yang ikut menjadi peserta.
Sejauh ini, laporan yang masuk ke Polda Gorontalo masih terus bertambah. Pada hari ini, dua orang korban resmi membuat laporan. Sebelumnya, di hari kemarin, lima korban lain juga telah melapor.
Para korban berasal dari berbagai daerah di Gorontalo, mulai dari Kota Gorontalo, Kabupaten Gorontalo, Pohuwato, hingga Boalemo.
Untuk laporan yang diajukan di hari ini, dua korban menyerahkan sejumlah bukti kepada penyidik. Mulai dari identitas terlapor, bukti transfer uang, hingga percakapan melalui aplikasi WhatsApp yang diduga berkaitan dengan aktivitas arisan tersebut.
Ali mengungkapkan para korban sebenarnya tidak langsung menempuh jalur hukum. Selama beberapa waktu, mereka masih berusaha menyelesaikan persoalan secara komunikasi dengan harapan uang yang telah disetorkan bisa dikembalikan.
Namun harapan itu perlahan memudar ketika terlapor disebut tidak lagi dapat dihubungi.
"Korban selama ini masih berupaya berkomunikasi karena yang mereka inginkan sebenarnya uang mereka kembali. Tetapi belakangan komunikasi terputus. Nomor telepon tidak aktif dan media sosial juga tidak bisa diakses," jelas Ali.
Menurut para korban, kondisi tersebut telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir. Sejak saat itu, tidak ada lagi penjelasan mengenai kelanjutan pembayaran maupun keberadaan pengelola arisan.
Yang menariknya lagi, sebagian besar korban mengaku bergabung bukan karena tergiur iklan atau promosi besar-besaran. Faktor kedekatan personal justru menjadi alasan utama.
Mayoritas peserta disebut mengenal pengelola arisan secara langsung, baik sebagai teman maupun kenalan. Kedekatan itu membuat banyak orang merasa aman untuk ikut menyetor uang dalam jumlah yang tidak sedikit.
"Karena mereka saling kenal. Ada hubungan pertemanan, ada yang memang sudah lama mengenal pelaku. Dari situlah muncul kepercayaan hingga akhirnya mereka ikut bergabung," lanjut Ali.
Kini, perkara tersebut telah masuk di SPKT Polda Gorontalo. Sementara para korban hanya berharap uang yang telah mereka setor bisa kembali, atau setidaknya ada kejelasan mengenai ke mana perginya dana yang selama ini mereka percayakan.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.