Cabai rawit menjadi penyumbang utama inflasi Gorontalo pada September 2026. Dampak El Nino yang mengganggu produksi rica lokal membuat pasokan berkurang dan harga melonjak, meski Gorontalo dikenal sebagai salah satu daerah penghasil cabai rawit.
***
BERINTI.ID, Gorontalo — Bagi masyarakat Gorontalo, makan tanpa rica rasanya seperti ada yang kurang. Namun, ketika cabai rawit mulai langka dan harganya melambung, bahan pelengkap yang nyaris selalu hadir di meja makan itu justru ikut bikin pusing urusan ekonomi daerah.
Cabai rawit alias rica menjadi penyumbang utama inflasi Gorontalo pada September 2026. Ironisnya, Gorontalo selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil cabai rawit, termasuk varietas lokal Samia yang terkenal dengan rasa pedasnya.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Gorontalo, Bambang Setya Permana, mengungkapkan persoalan tersebut dalam kegiatan PIRAMIDA bersama awak media, Rabu, 28 Oktober 2026.
Menurut Bambang, inflasi Gorontalo pada September 2026 tercatat sebesar 5,46 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Sementara itu, inflasi kumulatif sejak Januari hingga September 2026 mencapai 4,44 persen atau year-to-date (ytd).
"Komoditas utamanya yang menjadi penyumbang inflasi di bulan September itu adalah cabai rawit atau rica," ujar Bambang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa urusan harga cabai rawit bukan sekadar persoalan pedas di lidah, melainkan juga bisa memengaruhi daya beli masyarakat dan pergerakan inflasi daerah.
Gorontalo sebenarnya punya modal untuk memenuhi kebutuhan cabai rawit sendiri. Bahkan, varietas cabai rawit lokal Samia tidak hanya digemari masyarakat setempat, tetapi juga diminati konsumen di Sulawesi Utara, khususnya Manado, serta Maluku Utara.
Masalahnya, produksi cabai rawit tahun ini menghadapi tantangan serius akibat kondisi cuaca kering yang berkepanjangan.
Bambang menjelaskan, berdasarkan publikasi BMKG yang dirujuknya, kondisi El Nino di Gorontalo masuk kategori sangat kering, dengan curah hujan berkisar 0–20 milimeter.
Kondisi tersebut telah dirasakan sejak Juni 2026 dan berdampak pada sektor pertanian, terutama hortikultura.
Sejumlah sentra produksi cabai rawit ikut terdampak, antara lain Kecamatan Bone Pantai di Kabupaten Bone Bolango, Bongomeme di Kabupaten Gorontalo, Paguyaman Pantai di Kabupaten Boalemo, serta Randangan di Kabupaten Pohuwato.
Wilayah-wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan produksi cabai rawit Gorontalo, termasuk varietas Samia yang selama ini menjadi salah satu andalan petani lokal.
Minimnya curah hujan membuat produksi terganggu. Ketika hasil panen menurun, pasokan cabai rawit di pasar ikut menyusut. Sementara itu, kebutuhan masyarakat terhadap rica tidak serta-merta ikut berkurang.
Akibatnya, harga cabai rawit Gorontalo melonjak hingga menjadi yang tertinggi kedua di Indonesia, setelah Sulawesi Utara, berdasarkan penjelasan Bambang.
Persoalan cabai rawit Gorontalo rupanya tidak berhenti di batas wilayah administrasi provinsi.
Selama ini, Sulawesi Utara turut mengandalkan pasokan cabai rawit dari Gorontalo. Ketika produksi di Gorontalo terganggu akibat cuaca kering, daerah yang selama ini menjadi tujuan distribusi ikut merasakan dampaknya.
Kondisi serupa juga berpotensi menjalar ke Maluku Utara yang turut menikmati pasokan cabai rawit dari kawasan tersebut.
Bambang menjelaskan, Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Maluku Utara termasuk tiga provinsi dengan tekanan inflasi yang berkaitan dengan kenaikan harga cabai rawit.
Situasi ini memperlihatkan bahwa gangguan produksi satu komoditas pangan bisa merambat ke wilayah lain ketika rantai pasok antardaerah saling bergantung.
Rica yang ditanam petani Gorontalo bukan hanya menentukan harga di pasar lokal. Ketersediaannya juga ikut memengaruhi pasokan dan harga di daerah tetangga.
Untuk meredam kenaikan harga cabai rawit, BI Gorontalo menilai penambahan pasokan dari luar daerah menjadi salah satu langkah jangka pendek yang dapat dilakukan.
Bambang mengatakan, upaya tersebut dapat ditempuh melalui kerja sama bisnis antarpedagang atau business-to-business (B2B).
"Sejumlah pedagang di Gorontalo, telah mendatangkan cabai rawit dari Sulawesi Selatan untuk menambah ketersediaan komoditas di pasar," jelas Bambang.
Meski harga cabai rawit dari Sulawesi Selatan juga relatif lebih tinggi dibandingkan kondisi normal, pasokan tersebut disebut masih lebih murah daripada cabai rawit lokal Gorontalo saat ini.
Langkah mendatangkan cabai dari luar daerah diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus meredam tekanan harga di pasar.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.