Rumah sakit mestinya jadi tempat orang mencari pertolongan, bukan tempat meja dan kursi ikut kena emosi. Suasana itu terjadi di RS Sitti Khadijah Gorontalo. Dokter yang menjadi korban pada insiden itu mengungkap awal mula keributan yang berujung pada dugaan penganiayaan oleh seorang pria yang mengaku wartawan.
***
BERINTI.ID, Kota Gorontalo — Dokter RS Sitti Khadijah Gorontalo, Muhamad Rifki Hulalata, mengungkap kronologi dugaan penganiayaan yang dialaminya saat bertugas di ruang pelayanan rumah sakit pada Sabtu, 12 September 2026 dinihari.
Rifki menyebut insiden itu melibatkan seorang pria bertopi bernama Jefry Taha yang juga mengaku sebagai wartawan.
Rifki mengatakan saat kejadian dirinya sedang bertugas sebagai dokter shift malam. Sekitar pukul 00.20 Wita, dia bersama tim perawat mendengar keributan dari area tengah ruang pelayanan penerimaan pasien.
"Pada saat 00.20 Wita, kami mendengar keributan. Saya bersama tim perawat langsung keluar ke ruang area tengah, ruang pelayanan penerimaan pasien untuk melihat keributan itu," ujar Rifki saat dikonfirmasi di Polresta Gorontalo Kota.
Menurut Rifki, saat tiba di lokasi dia melihat Jefry telah melempar meja dan memukul kursi. Rifki kemudian berupaya menenangkan pria tersebut dan mengajaknya berdiskusi untuk mencari penyelesaian atas persoalan yang terjadi.
Namun, menurut Rifki, upaya tersebut justru berujung pada dorongan terhadap dirinya.
"Saya sudah berusaha untuk mencoba mencarikan solusi, tapi beliau berusaha untuk melakukan perlawanan kepada saya dengan cara mendorong, seperti yang beredar di video," kata Rifki.
Rifki mengatakan dia berusaha menahan dorongan tersebut dan tidak melakukan perlawanan. Akibat kejadian itu, dia mengaku mengalami luka dan memar pada bagian tangan.
"Luka di area tangan sudah saya visum tadi. Tangan saya ini rasa panas, memar. Sampai saat ini untuk dilakukan gerakan untuk tindakan ke pasien sangat sulit, kurang terkoordinasi dengan baik," tambahnya.
Rifki juga mengaku masih merasa pusing dan kesulitan berdiri tanpa sandaran.
Pangkal Persoalan Pelayanan Pasien
Rifki mengatakan setelah situasi mereda, dia menanyakan alasan pria tersebut mempersoalkan pelayanan di rumah sakit.
Menurut Rifki, salah satu keberatan yang disampaikan adalah pasien dianggap tidak mendapatkan tindakan medis.
Rifki membantah hal tersebut. Dia menjelaskan bahwa tindakan di instalasi gawat darurat (IGD) tidak terbatas pada pemberian infus, tetapi juga mencakup pemeriksaan terhadap kondisi pasien.
"Yang namanya tindakan di IGD itu bukan sebatas untuk menginfus pasien, tapi memeriksa pasien juga termasuk tindakan pasien," kata Rifki.
Persoalan kemudian berlanjut pada permintaan rawat inap.
Rifki mengatakan berdasarkan hasil triase, pasien berada dalam kategori hijau. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pasien belum memenuhi kriteria kegawatdaruratan untuk mendapatkan perawatan inap.
"Pasien masih masuk triase hijau, yang mana pasien masih bisa diberikan obat atau bisa perawatan di rumah," jelas Rifki.
Meski demikian, keluarga pasien disebut tetap meminta agar pasien dirawat inap. Pihak rumah sakit kemudian mencoba mencarikan kamar di ruang anak.
Namun, menurut Rifki, kamar yang tersedia saat itu penuh.
Rumah Sakit Cek Riwayat Pasien
Pihak rumah sakit kemudian memeriksa data pasien melalui sistem. Rifki mengatakan pasien tersebut diketahui baru menjalani perawatan sebelumnya dengan kondisi dan keluhan yang sama.
Dia menyebut kondisi tersebut sebagai readmisi, yakni pasien kembali mendapatkan pelayanan setelah sebelumnya menjalani perawatan dalam periode tertentu.
Menurut Rifki, kondisi tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam penanganan pasien, termasuk agar pasien tidak terbebani dengan persoalan administrasi.
Rifki juga membantah tudingan bahwa pasien diarahkan untuk menyelesaikan administrasi sebelum mendapatkan pelayanan medis.
"Secara bukti, secara CCTV juga ada, bahwasanya pasien kami tidak arahkan untuk melakukan administrasi. Kami tidak mengarahkan dia untuk mendaftar," kata dia.
Situasi akhirnya membuat pihak rumah sakit menghubungi kepolisian. Polisi kemudian datang ke lokasi dan meminta pihak-pihak yang terlibat, termasuk keluarga pasien, untuk duduk bersama dalam satu ruangan.
Hingga kini, pria bernama Jefry Taha itu telah diamankan oleh kepolisian di Polresta Gorontalo Kota untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.