Polresta Gorontalo Kota memberhentikan tidak dengan hormat dua personelnya melalui upacara PTDH. Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Suryono menegaskan institusi tidak akan mentoleransi pelanggaran berat yang mencoreng nama baik Polri.
***
BERINTI.ID, Kota Gorontalo - Suasana Lapangan Apel Polresta Gorontalo Kota, Senin pagi, 11 Mei 2026, terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada perayaan dan tepuk tangan. Yang ada justru pengingat bahwa seragam kepolisian bukan cuma soal pangkat dan kewenangan, tapi juga soal tanggung jawab.
Hari itu, Polresta Gorontalo Kota menggelar upacara Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) terhadap dua personelnya.
Upacara dipimpin langsung oleh Kapolresta Gorontalo Kota, Kombes Pol Suryono dan dihadiri pejabat utama, para kapolsek, perwira, bintara, hingga ASN di lingkungan Polresta.
PTDH memang bukan agenda yang ingin dipamerkan institusi mana pun. Tapi justru lewat upacara semacam ini, pesan soal disiplin dan konsekuensi ingin diperlihatkan secara terbuka.
Dalam amanatnya, Suryono mengatakan keputusan pemecatan tersebut bukan langkah yang mudah. Namun menurutnya, tindakan itu harus diambil setelah melalui proses panjang dalam sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri (KKEP).
"Kegiatan ini merupakan bentuk nyata komitmen institusi dalam menegakkan aturan disiplin dan kode etik," kata Suryono.
Dirinya menegaskan, institusi kepolisian tidak akan memberi ruang bagi pelanggaran berat yang dilakukan anggotanya. Baik pelanggaran disiplin, pelanggaran kode etik, maupun tindak pidana yang bisa merusak kepercayaan masyarakat terhadap Polri.
Bagi banyak anggota polisi, upacara PTDH sering dianggap sebagai momen paling pahit dalam karier kepolisian. Sebab bukan hanya kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan kehormatan sebagai anggota institusi.
Karena itu, upacara berlangsung tanpa euforia. Semua berjalan formal dan tegas. Para peserta apel berdiri rapi mendengarkan amanat pimpinan, sementara dua nama personel yang diberhentikan menjadi pengingat bahwa pelanggaran dalam tubuh institusi tetap memiliki konsekuensi.
Upacara kemudian ditutup dengan doa bersama. Sebuah penutup yang sederhana, tapi mungkin juga menjadi refleksi bahwa menjaga integritas dalam pekerjaan kadang jauh lebih sulit daripada sekadar mengenakan seragam.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.