Ekonomi Gorontalo pada 2025 menunjukkan penguatan signifikan dengan pertumbuhan yang melampaui capaian nasional. Bank Indonesia menilai momentum ini harus dijaga melalui percepatan hilirisasi sektor pertanian dan penguatan UMKM sebagai motor ekonomi daerah menuju 2026.
***
BERINTI.ID, Gorontalo - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Gorontalo melaporkan kinerja ekonomi Provinsi Gorontalo sepanjang 2025 menunjukkan tren penguatan yang solid.
Bagaimana tidak, pertumbuhan ekonomi pada triwulan III 2025 tercatat mencapai 5,49 persen year-on-year (yoy). Capaian ini lebih tinggi dari triwulan sebelumnya, sekaligus melampaui pertumbuhan nasional dan kawasan Sulampua.
Plh Kepala KPwBI Gorontalo, Ciptoning Suryo Condro, mengatakan capaian tersebut menegaskan ketahanan ekonomi daerah.
"Ekonomi Gorontalo tumbuh positif baik dari sisi lapangan usaha maupun pengeluaran," ujarnya.
Pertanian Masih Jadi Penopang Utama
Suryo, menjelaskan bahwa struktur ekonomi Gorontalo masih didominasi tiga lapangan usaha utama yaitu pertanian, perdagangan dan konstruksi.
"Untuk sektor pertanian menjadi kontribusi terbesar yang mencapai 37,26 persen, perdagangan 14,52 persen, dan sektor konstruksi 11,51 persen," ujar Suryo menjelaskan.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi masyarakat, investasi, dan belanja pemerintah menjadi motor penggerak utama pertumbuhan.
Inflasi provinsi juga terjaga pada level 2,44 persen (yoy) per Oktober 2025. BI Gorontalo memproyeksikan inflasi tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5 ± 1 persen hingga akhir tahun.
Kondisi tersebut didukung surplus komoditas pangan seperti cabai dan beras, meski efisiensi tata niaga dan rantai pasok dinilai masih perlu ditingkatkan.
UMKM Jadi Fokus 2026
Pada 2025, BI Gorontalo memprioritaskan pengembangan sektor riil melalui korporatisasi, peningkatan kapasitas, dan pembiayaan UMKM.
Berbagai program seperti HACF & GKK 2025, Pesona Tameto 2025, serta Gebyar UMKM disebut berhasil mendorong omzet pelaku usaha.
Suryo menerangkan bahwa tantangan 2026 menuntut penguatan sektor riil, khususnya hilirisasi pertanian dan pengembangan UMKM.
Tantangan nasional seperti ketidakpastian geopolitik, pergeseran arus modal global, serta risiko iklim disebut dapat berdampak pada ekonomi daerah.
Sementara tantangan lokal mencakup produktivitas pertanian, ekosistem investasi, disparitas harga antarwilayah, kesiapan pariwisata, digitalisasi pembayaran, serta kualitas SDM.
Proyeksi 2026 dan Kolaborasi Daerah
BI memproyeksikan ekonomi Gorontalo tetap tumbuh positif di kisaran 5,50–6,50 persen pada 2026, dengan inflasi stabil pada target 2,5 kurang lebih 1 persen.
Lima fokus pembangunan daerah dinilai akan memperkuat pondasi ekonomi Gorontalo. Seperti, agro-maritim, peningkatan SDM, penguatan UMKM, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan pariwisata termasuk peluang Geopark Gorontalo.
"Jalan menuju Gorontalo yang maju dan sejahtera tidak dapat dicapai tanpa sinergi seluruh pihak. Semangat kolaborasi ini harus terus dijaga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan menuju Indonesia Emas 2045," tutup Suryo.
Admin