Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Gorontalo untuk mewaspadai musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang tahun ini.
***
BERINTI.ID, Gorontalo – Kalau belakangan ini siang terasa makin terik, rumput mulai menguning, dan hujan semakin pelit turun, kemungkinan besar itu bukan sekadar perasaan.
BMKG memastikan Provinsi Gorontalo kini sudah sepenuhnya memasuki musim kemarau. Bedanya, kemarau kali ini diperkirakan bakal lebih panjang karena datang berbarengan dengan fenomena El Nino yang saat ini sudah berada pada level kuat.
Koordinator Observasi Data dan Informasi BMKG Gorontalo melalui Stasiun Klimatologi, Muhamad Yandar Saputra, mengatakan kombinasi musim kemarau dan El Nino membuat suhu terasa lebih panas dibanding kondisi normal.
"El Nino saat ini sudah mencapai level kuat dengan peluang sekitar 98 persen. Ditambah sekarang kita memang sudah masuk musim kemarau, sehingga masyarakat pasti sudah mulai merasakan kondisi panasnya," kata Yandar, pada Senin, 13 Juli 2026.
Menurutnya, musim kemarau di Gorontalo sebenarnya tidak datang bersamaan di semua daerah.
BMKG membagi wilayah Gorontalo ke dalam delapan zona musim yang memiliki waktu awal kemarau berbeda-beda.
Wilayah Gorontalo bagian timur menjadi kawasan yang paling dulu memasuki musim kemarau, yakni sejak Mei 2026.
Sementara sebagian wilayah Gorontalo Utara dan Pohuwato bagian utara mulai memasuki kemarau pada Juni.
Adapun sebagian besar wilayah lainnya baru resmi memasuki musim kemarau pada awal Juli.
"Kalau sekarang, secara keseluruhan Provinsi Gorontalo sudah masuk musim kemarau," ujarnya.
Meski sama-sama kemarau, puncaknya pun tidak datang serentak. BMKG memprediksi wilayah timur Gorontalo Utara sudah memasuki puncak musim kemarau pada Juli ini sehingga masyarakat di kawasan tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kekeringan.
Sementara sebagian besar wilayah lain diperkirakan baru mencapai puncak kemarau pada Agustus mendatang.
Menraiknya lagi, tidak semua daerah akan segera keluar dari musim kering. BMKG memprediksi Zona Musim 7 yang meliputi Tilamuta dan Dulupi justru akan mengalami musim kemarau paling panjang. Kawasan tersebut diperkirakan baru mencapai puncak kemarau pada Februari 2027.
Artinya, warga di wilayah itu berpotensi menghadapi musim kering yang berlangsung jauh lebih lama dibanding daerah lain.
Menurut Yandar, kondisi tersebut tidak lepas dari pengaruh El Nino yang terus menguat.
Fenomena itu membuat pembentukan awan hujan berkurang sehingga curah hujan cenderung lebih rendah dari biasanya.
"Musim kemarau tahun ini diperkirakan akan lebih panjang karena dipengaruhi dinamika atmosfer, yaitu El Nino yang saat ini masih terus menguat," jelas Yandar.
Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat mulai mengantisipasi berbagai dampak musim kemarau, mulai dari berkurangnya ketersediaan air bersih, meningkatnya potensi kebakaran lahan, hingga gangguan pada sektor pertanian.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.