Polisi menghentikan sementara olah tempat kejadian perkara (TKP) longsor tambang emas di Desa Hulawa, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato, setelah longsor susulan terjadi hingga enam kali. Kondisi tanah yang masih labil membuat petugas mundur demi keselamatan.
***
BERINTI.ID, Pohuwato — Ada pekerjaan yang bisa ditunda karena hujan. Ada juga yang bisa ditunda karena lupa membawa payung. Tapi kalau tanah tempat bekerja tiba-tiba longsor sampai enam kali, barangkali memang sudah waktunya mundur dulu.
Itulah yang terjadi saat polisi melakukan olah TKP longsor tambang emas di Desa Hulawa, Kecamatan Patilanggio, Kabupaten Pohuwato.
Tim Polres Pohuwato sebenarnya sudah datang ke lokasi pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kasatreskrim bersama tim tiba sekitar pukul 12.00 Wita dan mulai melakukan olah TKP sampai sekitar pukul 15.30 Wita.
Namun, kawasan perbukitan itu rupanya belum selesai dengan urusan longsornya. Saat petugas sedang memeriksa lokasi, longsor susulan terjadi sebanyak enam kali.
"Di sana itu daerah perbukitan. Ketika menjalankan olah TKP masih terjadi longsor susulan sebanyak 6 kali," kata Kabid Humas Polda Gorontalo, Kombes Pol Marupa Sagala saat dikonfirmasi Jumat, 14 Agustus 2026.
Kalau tanah sudah enam kali memberikan tanda bahwa ia belum stabil, tentu bukan waktu yang tepat untuk sok berani. Tim akhirnya mundur dari lokasi tempat para korban tertimbun.
Polisi kemudian memasang garis polisi di sekitar area tambang. Aktivitas masyarakat di lokasi tersebut dibatasi untuk menghindari adanya korban lain.
"Karena masih longsor dikhawatirkan menimbulkan korban dari anggota kita, jadi proses olah TKP sementara kita pending. Hingga tim kembali ke Polres," ujar Marupa.
Meski olah TKP ditunda, penyelidikan tetap berjalan. Polisi akan mendalami aktivitas para korban sebelum kejadian, termasuk bagaimana mereka bisa berada di lokasi tambang tersebut.
"Intinya kita melakukan pendalaman tentang aktivitas para korban di sana, bagaimana mereka bisa di sana itu yang perlu didalami oleh nanti penyidik dari Polres Pohuwato," sambungnya.
Perlu diketahui, dalam tragedi ini, sebanyak lima penambang meninggal dunia, sedangkan satu orang lainnya selamat dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Hingga Jumat, 14 Agustus 2026, polisi juga belum menerima laporan adanya keluarga lain yang kehilangan anggota keluarganya akibat peristiwa tersebut.
"Dan sampai hari ini tidak ada lagi keluarga yang mengatakan kehilangan keluarganya," ujar Marupa.
Untuk sementara, angka korban masih berada di enam orang. Lima meninggal dunia dan satu masih dirawat. Sementara itu, olah TKP menunggu kondisi lokasi yang dianggap cukup aman untuk didatangi kembali.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.