Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Gorontalo melaksanakan ujian kesetaraan Paket C bagi warga binaan. Program ini adalah upaya pemenuhan hak pendidikan bagi narapidana selama menjalani masa hukuman.
***
BERINTI.ID, Gorontalo - Suasana di Lapas Kelas IIA Gorontalo, Senin pagi, 30 Maret 2026, terasa sedikit berbeda. Bukan karena ada kunjungan atau kegiatan seremonial, melainkan karena enam warga binaan sedang bersiap menghadapi ujian kesetaraan Paket C.
Di balik seragam dan status sebagai warga binaan, mereka duduk sebagai pelajar. Membaca soal, mengingat pelajaran, dan mencoba menjawab sebaik mungkin—seperti siswa lain di luar sana.
Kepala Seksi Bimbingan Narapidana dan Anak Didik (Binadik), Kasdin Lato, menjelaskan bahwa tahun ini jumlah peserta memang lebih sedikit dibandingkan tahun lalu yang mencapai 15 orang. Namun, penurunan itu justru membawa kabar baik.
"Sebagian besar warga binaan kami sudah lulus SMA, makanya hari ini yang ikut ujian cuman enam orang," ujar Kasdin.
Bagi mereka yang mengikuti ujian tahun ini, kesempatan ini menjadi langkah penting untuk mengejar pendidikan yang sempat tertunda.
Selama ini, mereka telah mengikuti proses belajar mengajar dan terdaftar dalam sistem pendidikan nasional (Dapodik), memastikan bahwa apa yang mereka jalani bukan sekadar formalitas.
Hari pertama ujian dimulai dengan mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Setelah itu, mereka akan melanjutkan ke ujian pendidikan keagamaan.
Seluruh rangkaian ujian dijadwalkan berlangsung selama lima hari.
Di ruang ujian yang sederhana, pengawasan dilakukan secara ketat, tidak hanya oleh petugas internal lapas, tetapi juga akan melibatkan Dinas Pendidikan Kota Gorontalo.
Namun, di balik aturan dan pengawasan itu, terselip kepercayaan bahwa warga binaan itu mampu menjalani proses ini dengan jujur dan sungguh-sungguh.
Program pendidikan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih besar—memberikan kesempatan kedua. Bukan hanya untuk menjalani masa hukuman, tetapi juga untuk memperbaiki diri dan mempersiapkan masa depan.
Kasdin berharap, setelah bebas nanti, para warga binaan ini tidak berhenti sampai di sini. Mereka masih memiliki usia yang produktif untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, bahkan hingga perguruan tinggi.
Lebih dari itu, ia juga membuka kemungkinan yang mungkin terdengar jauh, namun bukan mustahil: keterlibatan mereka di tengah masyarakat, bahkan dalam peran kepemimpinan.
"Ketika bebas nanti, mereka bisa melanjutkan pendidikan, bahkan tidak menutup kemungkinan mencalonkan diri sebagai kepala desa atau anggota dewan," harap Kasdin.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.