TikTok Logo X Logo
Logo
Hulonthalo

Jagung Bukan Sekadar Pipilan: Upaya Bank Indonesia Rapikan Rantai Pangan dari Sulampua

$detailB['caption'] Diseminasi riset “Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Sulampua” berlangsung di KPwBI Gorontalo, pada Selasa, 10 Februari 2026 (istimewa)

Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan BI Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara melakukan diseminasi riset berjudul "Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Sulampua".

***

BERINTI.ID, Gorontalo - Jagung selama ini sering dipandang cuma urusan panen dan harga, tapi Bank Indonesia melihatnya sebagai kunci rantai pangan. 

Pada Selasa, 10 Februari 2026, Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan bareng BI Gorontalo, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Utara menggelar diseminasi riset bertajuk Karakteristik dan Struktur Rantai Nilai Jagung di Sulampua. 

Lokasinya di Gorontalo, pesertanya komplet, mulai dari Dinas Pertanian, pelaku usaha jagung, sampai akademisi. Pokoknya, semua yang hidupnya masih bersinggungan dengan pipilan kuning ini hadir.

Hasil risetnya cukup serius. Jagung di Sulawesi, Maluku, dan Papua (Sulampua) ternyata bukan pemain figuran. Wilayah ini menyumbang sekitar 13,9 persen produksi jagung nasional, menjadi peringkat ketiga setelah pulau Jawa dan Sumatera. 

Kontributor terbesarnya datang dari Sulawesi Selatan, Gorontalo, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Tengah. Yang lebih penting jagung adalah tulang punggung pakan ayam. 

Tanpa jagung, ayam ogah bertelur, ayam pedaging susah gede, dan harga lauk bisa bikin dompet trauma. 

Masalahnya, rantai nilai jagung di Sulampua belum seindah narasi swasembada di dokumen kebijakan. Petani masih berjibaku dengan lahan sempit, cuaca yang makin susah ditebak, kualitas panen yang naik turun, serta modal yang sering datang belakangan. 

Di sisi lain, pengepul dan industri pakan juga pusing karena pasokan tak stabil dan mutu bahan baku yang kadang bikin mesin produksi ikut stres.

Dari situ, Bank Indonesia tak cuma datang bawa data, tapi juga resep. Setidaknya ada lima strategi prioritas yang ditawarkan untuk merapikan rantai nilai jagung dari hulu sampai hilir. 

Pertama, urusan klasik tapi krusial, yaitu kualitas. BI mendorong pembangunan infrastruktur pascapanen seperti dryer dan gudang komunal supaya jagung petani tak lagi kalah harga cuma gara-gara kadar air.

Kedua, kelompok tani dan gapoktan diminta naik kelas. Bukan sekadar kumpul saat ada bantuan, tapi jadi aggregator yang bisa mengonsolidasikan pasokan dan memperkuat posisi tawar petani di hadapan pasar.

Ketiga, produktivitas. Caranya dengan benih hibrida dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP). Bahasa halusnya: bertani jangan asal warisan, tapi pakai ilmu.

Keempat, kemitraan berbasis kontrak kualitas antara petani, pengepul, dan industri pakan. Ada insentif, ada standar, ada kepastian. Jadi tak ada lagi drama panen melimpah tapi bingung mau dijual ke siapa.

Terakhir, peningkatan literasi dan teknologi pertanian lewat sekolah lapang jagung dan klinik agribisnis. Hal ini agar petani tak cuma paham tanam dan panen, tapi juga ngerti hitung-hitungan usaha.

Lewat diseminasi ini, BI berharap rantai nilai jagung Sulampua bisa lebih rapi, produktif, dan berkualitas. 

Kalau semua berjalan sesuai skenario, swasembada pangan tak lagi sekadar slogan. Setidaknya, ayam bisa makan enak, petani dapat harga pantas, dan masyarakat bisa makan tanpa perlu was-was harga naik mendadak.


Mau dapatkan informasi terbaru yang menarik dari kami? Ikut WhatsApp Channel Berinti.id. Klik disini untuk gabung.

Foto Profil

Admin

×

Search

WhatsApp Icon Channel WhatsApp