TikTok Logo X Logo
Logo
Hulonthalo

Kapal Bermuatan Hampir 4 Ton Sianida Kembali Masuk Laut Gorut, Polisi Masih Cari Dalang di Baliknya

$detailB['caption'] Sejumlah barang bukti sianida yang diamankan polisi dari laut Gorut yang dimuat oleh tiga warga Filipina dan satu warga Indonesia (Berinti.id/Husnul Puhi)

Perairan Gorontalo Utara (Gorut) kembali jadi jalur masuk bahan kimia berbahaya. Polisi mengamankan kapal yang membawa hampir 4 ton sianida dari Filipina, namun hingga kini sosok pemilik dan dalang di balik pengiriman barang tersebut masih terus diburu.

***

BERINTI.ID, Gorontalo - Laut Gorut lagi-lagi jadi jalur masuk bahan kimia berbahaya. Kali ini, Ditpolairud Polda Gorontalo mengamankan kapal yang membawa sekitar 3,8 ton sianida dari Filipina. 

Yang bikin penasaran, sampai sekarang polisi masih mendalami siapa sebenarnya pemilik barang berbahaya itu.

Kasus ini diungkap langsung Dirpolairud Polda Gorontalo, Kombes Pol Devy Firmansyah, dalam konferensi pers di Mapolda Gorontalo, Rabu, 6 Mei 2026.

Menurut Devy, operasi bermula dari informasi soal kapal mencurigakan yang masuk lewat jalur laut pada Kamis dini hari, 23 April 2026, sekitar pukul 01.40 Wita. Kapal itu diduga membawa sianida dari Filipina menuju perairan Gorontalo.

"Setelah dicek, kapal itu memang baru tiba dan hendak bersandar," kata Devy.

Polisi lalu bergerak bersama Bea Cukai dan langsung melakukan penindakan. Dari operasi itu, empat orang diamankan. Satu di antaranya warga negara Indonesia berinisial AM, sementara tiga lainnya warga negara Filipina berinisial KWS, RP, dan DRC.

Saat kapal digeledah, polisi menemukan 77 karung bahan kimia yang diduga sianida. Tiap karung diperkirakan berbobot sekitar 50 kilogram.

"Totalnya itu kurang lebih 3.850 kilogram atau hampir 4 ton," ujar Devy.

Yang menarik, kapal pengangkut sianida itu disebut tak memiliki nama dan masuk lewat jalur Laut Sulawesi tanpa dokumen resmi. Polisi menduga barang tersebut berasal dari wilayah dekat General Santos City, Filipina.

Devy menjelaskan bahwa menurut pengakuan para awak kapal, mereka hanya bekerja sebagai pengantar bukan pemilik. 

"Untuk kapten kapal ddibayar Rp2 juta, dan anak buah kapal menerima Rp1 juta per orang untuk membawa muatan sianida itu masuk ke Indonesia," jelas Devy. 

Selain itu, polisi juga mengamankan tiga mobil yang diduga disiapkan untuk mengangkut sianida setelah tiba di darat. Namun, para sopir kendaraan itu keburu kabur begitu mengetahui keberadaan polisi. 

"Jadi saat kami mau mengamankan mobil ini, para supirnya melarikan diri, tapi identitasnya sudah kami kantongi," lanjut Devy.

Saat ini, polisi belum bisa memastikan siapa pemilik utama sianida tersebut. Penyidik masih menelusuri komunikasi para tersangka dan jaringan yang terlibat di belakang pengiriman bahan kimia itu.

"Untuk kepemilikan masih kami dalami. Kami akan telusuri mereka berkomunikasi dengan siapa," tutup Devy.

Kasus ini menambah daftar panjang peredaran sianida ilegal di wilayah Gorontalo. Bahan kimia itu kerap dikaitkan dengan aktivitas tambang emas ilegal karena digunakan untuk proses pemurnian emas.


Mau dapatkan informasi terbaru yang menarik dari kami? Ikut WhatsApp Channel Berinti.id. Klik disini untuk gabung.

Foto Profil

Husnul Puhi

Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.

×

Search

WhatsApp Icon Channel WhatsApp