Kemarau panjang yang melanda Gorontalo sejak Juni hingga Agustus menyebabkan kekurangan air bersih di sejumlah wilayah. BPBD Provinsi Gorontalo mencatat empat kabupaten berstatus siaga darurat dengan sekitar 16 ribu warga terdampak kekeringan.
***
BERINTI.ID, Gorontalo — Gorontalo sedang menjalani kemarau panjang hingga menimbulkan dampak kekeringan. Sejak Juni hingga Agustus, hujan seperti memilih untuk mengambil cuti panjang. Masalahnya, yang ikut kering bukan cuma tanah, tapi juga sumur warga.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, Tahir Laendeng, mengatakan kemarau panjang yang melanda Gorontalo berdampak pada sejumlah wilayah.
Namun, urusan air bersih menjadi persoalan yang paling banyak ditangani pemerintah saat ini.
"Yang paling banyak terjadi dan yang sering kita layani itu adalah kekurangan air bersih," kata Tahir, saat dikonfirmasi, Senin, 24 Agustus 2026.
Setidaknya empat kabupaten di Gorontalo telah menetapkan status siaga darurat akibat kekeringan. Bone Bolango menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak, dengan sekitar tujuh kecamatan mengalami kekurangan air bersih.
Belakangan, Kabupaten Boalemo juga melaporkan tiga kecamatan yang terdampak kekeringan.
Totalnya bukan sedikit. Sekitar 16 ribu jiwa dari empat kabupaten terdampak kekeringan.
Artinya, bagi ribuan warga tersebut, mendapatkan air bersih sekarang bukan lagi perkara membuka keran lalu air mengalir. Keran boleh diputar sampai bosan, tetapi kalau sumber airnya sudah mengering, ya tetap saja yang keluar cuma harapan.
Hingga saat ini, lebih dari 265 ribu liter air bersih telah disalurkan kepada masyarakat di tiga kabupaten berdasarkan laporan yang masuk ke Pusdalops BPBD Provinsi Gorontalo.
Distribusi air tersebut melibatkan banyak pihak, mulai dari BNPB, BPBD kabupaten dan kota, Dinas Sosial, Balai Wilayah Sungai (BWS), hingga Balai Prasarana Permukiman Wilayah. TNI dan Polri juga ikut terlibat dalam proses distribusi.
Tahir mengatakan penyaluran air dilakukan hampir setiap hari ke wilayah yang mengalami kekeringan.
Salah satu daerah yang cukup bergantung pada distribusi air adalah Bonepantai. Sumber air PDAM di wilayah tersebut mulai mengecil, sementara sumur-sumur warga sudah banyak yang tidak lagi memiliki cadangan air.
Kondisinya membuat pemerintah harus rajin mondar-mandir membawa air.
"Untuk sementara memang masyarakat berharap kepada penyalur-penyalur air dari pihak pemerintah. Kami menyalurkan hampir tiap hari ke daerah-daerah terdampak," ujar Tahir.
Di Bonepantai, pemerintah bahkan memanfaatkan embung sebagai salah satu sumber air yang kemudian disalurkan kepada masyarakat. Air dari embung tersebut dinilai masih cukup baik untuk digunakan.
Namun begitu, persoalannya ternyata tidak berhenti pada kebutuhan rumah tangga.
Kekeringan juga mulai mengancam sektor pertanian. Sejumlah persawahan di beberapa wilayah mulai mengalami kekurangan air.
Pemerintah kini berencana membahas langkah lanjutan dalam rapat koordinasi, termasuk kemungkinan mencari solusi agar petani tetap mendapatkan pasokan air.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.