Sekolah Rakyat di Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, menjadi ruang kedua bagi anak-anak yang terputus dari akses pendidikan formal. Melalui sistem berasrama, sekolah ini menampung anak putus sekolah dan anak dari keluarga miskin ekstrem, sekaligus membuka kembali peluang mereka untuk melanjutkan pendidikan dasar dan menengah.
BERINTI.ID, Kabupaten Boalemo - Di Desa Tutulo, Kecamatan Botumoito, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, ada sebuah sekolah yang fungsinya bukan cuma tempat belajar membaca dan berhitung.
Sekolah yang dimaksud jadi semacam “rumah singgah” bagi anak-anak yang selama ini tercecer oleh sistem, seperti putus sekolah, hidup dalam kemiskinan ekstrem, bahkan ditelantarkan orang tua.
Namanya Sekolah Rakyat Terintegrasi 71. Lokasinya jauh dari hiruk-pikuk kota, tapi justru di sanalah negara berusaha hadir, setidaknya lewat satu bangunan sekolah dan deretan asrama.
Sekolah ini menampung anak-anak dari keluarga desil 1 dan 2, kategori paling miskin dalam data kesejahteraan.
Di Gorontalo, provinsi yang berkali-kali disebut dalam daftar daerah termiskin di Indonesia, keberadaan Sekolah Rakyat ini terasa seperti jawaban yang datang agak telat, tapi tetap layak disambut.
"Sekolah Rakyat di Boalemo ini terintegrasi, dari SD sampai SMP," kata Wakil Kurikulum Sekolah Rakyat Gorontalo, Indrawati, saat ditemui Kamis sore, 22 Januari 2026.
Saat ini, total siswa yang belajar di sana berjumlah 63 orang. Rinciannya, 42 siswa tingkat SD dan 21 siswa tingkat SMP. Jumlahnya memang tidak besar, tapi hampir setiap anak membawa cerita hidup yang berat.
Model pendidikan yang diterapkan pun tak biasa. Sekolah Rakyat ini menggunakan sistem boarding school. Artinya, siswa tinggal penuh di asrama.
"Anak-anak harus tinggal di sekolah,” ujar Indrawati.
Konsekuensinya, mereka tak bisa setiap hari pulang atau bertemu keluarga. Rindu orang tua? Itu sudah dipikirkan, meski tetap dengan aturan ketat.
"Tidak ada jeda harian untuk pulang. Ada jadwal khusus pesiar untuk siswa, dan orang tua juga punya jadwal khusus untuk berkunjung," kata Indrawati menjelaskan.
Perlu diketahui, sekolah ini merupakan bagian dari program Kementerian Sosial. Peminatnya banyak, tapi tidak semua bisa diterima.
Ada kriteria yang tak bisa ditawar. Yaitu siswa harus berasal dari keluarga miskin ekstrem.
Indrawati tak menampik, sebagian besar siswa di Sekolah Rakyat ini adalah anak-anak yang sebelumnya putus sekolah. Ada juga yang masuk karena ditelantarkan orang tua.
"Semua siswa di sini masih dari Kabupaten Boalemo, dari desa mana pun bisa. Asal masuk desil 1 atau 2. Dan memang paling banyak itu anak putus sekolah," tuturnya.
Sekolah Rakyat ini mungkin tidak bisa menyelesaikan persoalan kemiskinan di Kabupaten Boalemo. Namun setidaknya, ada satu tempat yang memberi anak-anak ini kesempatan kedua untuk belajar, tinggal dengan layak, dan pelan-pelan merancang masa depan yang sebelumnya nyaris tak punya alamat.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.