TikTok Logo X Logo
Logo
Hulonthalo

Kisah Nelayan Asal Kema Bertahan Hidup di Tengah Laut Selama 13 Jam Usai Kapal KM Nazila 05 Tenggelam

$detailB['caption'] 21 Nelayan asal Kema Sulawesi Utara yang bertahan hidup selama 13 jam usai Kapal KM Nazila 05 tenggelam di perairan Taliabu Maluku Utara (Berinti.id/Husnul Puhi)

Sebanyak 21 nelayan asal Kema, Sulawesi Utara, harus berjuang bertahan hidup di tengah laut selama 13 jam setelah kapal yang mereka tumpangi tenggelam di perairan Taliabu, Maluku Utara.

***

BERINTI.ID, Gorontalo - Di tengah gelapnya laut dan kerasnya angin dini hari itu, 21 nelayan asal Kema, Sulawesi Utara, hanya punya satu pilihan, yaitu bertahan.

Salah satu dari mereka, Jefry Tugiman (34), masih mengingat jelas bagaimana detik-detik sebelum kapal yang mereka tumpangi, KM Nazila 05, tenggelam di perairan sekitar Pulau Taliabu pada Senin dini hari, 30 Maret 2026.

Perjalanan yang awalnya berjalan normal itu berubah ketika kapal mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan. Bagian depan kapal diduga mulai rusak setelah dihantam ombak besar.

"Awalnya normal, lalu rusak. Teman saya yang pertama tahu, lalu dia memberi tahu kami semua," kata Jefry, saat ditemui di Pelabuhan Pelindo Kota Gorontalo, Selasa, 31 Maret 2026.

Kabar itu menyebar cepat di antara para awak. Mereka mencoba tetap tenang, meski rasa panik tak bisa sepenuhnya dihindari. 

Dalam waktu yang terbatas, mereka segera mengamankan diri dan mengambil apa yang bisa digunakan untuk bertahan.

Tak lama kemudian, kebocoran di bagian depan kapal semakin parah. Air mulai masuk, dan kapal perlahan kehilangan daya tahannya.

Di tengah situasi itu, mereka menemukan harapan dari alat sederhana yang tersedia di kapal, yakni Ayuda, perahu kecil untuk keadaan darurat, serta pelampung.

"Begitu tahu kapal bocor, kami langsung mengambil ayuda dan pelampung, lalu menyelamatkan diri," ujar Jefry.

Keputusan cepat itu menyelamatkan mereka. Tak lama setelah itu, kapal tenggelam sepenuhnya.

Namun, perjuangan mereka belum berakhir. Sebanyak 21 orang itu harus bertahan di tengah laut selama sekitar 13 jam. 

Mereka terombang-ambing di atas ayuda dan potongan gabus, di tengah cuaca buruk dengan ombak besar dan angin kencang.

Dalam kondisi terbatas, mereka saling menguatkan, menjaga satu sama lain tetap sadar dan bertahan. Waktu berjalan lambat, sementara harapan harus terus dijaga.

Di tengah ketidakpastian itu, mereka mencoba mencari cara untuk meminta bantuan. Dengan telepon genggam yang masih bisa digunakan, mereka memanfaatkan akses internet yang tersedia. 

"Kami sempat meminta pertolongan lewat siaran langsung, karena masih ada jaringan," tutur Jefry.

Upaya itu menjadi salah satu jalan yang membantu proses pencarian. Beberapa jam kemudian, tim SAR akhirnya menemukan mereka.

Satu per satu, para nelayan itu berhasil diselamatkan dalam keadaan selamat.

Kini, setelah melewati malam panjang di tengah laut, mereka telah tiba di Gorontalo. Tubuh mungkin lelah, tetapi mereka membawa pulang satu hal yang lebih penting, yaitu kesempatan kedua untuk kembali ke rumah.


Mau dapatkan informasi terbaru yang menarik dari kami? Ikut WhatsApp Channel Berinti.id. Klik disini untuk gabung.

Foto Profil

Husnul Puhi

Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.

×

Search

WhatsApp Icon Channel WhatsApp