Polda Gorontalo menggelar lomba cerdas cermat tentang KUHP dan KUHAP yang baru sebagai upaya meningkatkan pemahaman personel terhadap regulasi pidana nasional.
***
BERINTI.ID, Gorontalo – Kalau mendengar peringatan Hari Bhayangkara, bayangan banyak orang biasanya tidak jauh dari upacara, olahraga, atau kegiatan sosial. Namun tahun ini, Polda Gorontalo memilih cara yang sedikit berbeda. Polisi diajak adu cepat berpikir.
Jumat, 10 Juli 2026, Aula Titinepo Mapolda Gorontalo berubah menjadi arena Grand Final Lomba Cerdas Cermat tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru.
Di hadapan Kapolda Gorontalo, Wakapolda, para pejabat utama hingga kapolres jajaran, lima tim terbaik saling berebut poin dengan menjawab berbagai pertanyaan hukum yang selama ini menjadi kitab wajib aparat kepolisian.
Kalau dipikir-pikir, memang masuk akal. Polisi setiap hari berurusan dengan hukum. Apa jadinya kalau yang menegakkan hukum justru masih gagap membaca aturan yang baru.
Kapolda Gorontalo Irjen Pol Widodo mengatakan, lomba tersebut sengaja dirancang sebagai sesuatu yang berbeda dalam rangka memperingati Hari Bhayangkara ke-80.
Menurutnya, peringatan Hari Bhayangkara tidak harus selalu diisi dengan kegiatan seremonial atau olahraga semata.
"Kami berpikir menghadirkan sesuatu yang belum pernah ada. Ini pertama kalinya kami melaksanakan lomba cerdas cermat KUHP dan KUHAP," ujar Widodo usai lomba.
Namun, kata dia, tujuan utamanya bukan sekadar mencari siapa polisi yang paling cepat menjawab soal.
Bagi Widodo, esensi kegiatan tersebut adalah memastikan seluruh personel mulai menyesuaikan diri dengan perubahan hukum pidana nasional yang kini sudah berlaku.
Ia menilai masyarakat semakin menuntut pelayanan kepolisian yang profesional. Salah satu syarat agar pelayanan itu baik adalah aparat benar-benar memahami aturan yang menjadi dasar mereka bekerja.
"Gimana mau melayani masyarakat dengan baik kalau tidak memahami dan menguasai undang-undang tersebut? KUHP dan KUHAP ini produk hukum nasional yang baru, sehingga harus cepat dipahami," kata Widodo.
Widodo juga mengingatkan, minimnya pemahaman terhadap aturan baru justru bisa berujung pada pelayanan yang keliru. Kalau itu terjadi, yang rugi bukan hanya polisi, tetapi juga masyarakat yang membutuhkan kepastian hukum.
Karena itulah lomba tersebut dijadikan sebagai pemantik. Polisi dipaksa belajar lebih serius agar minimal bisa lolos hingga babak final.
Menariknya lagi, Polda Gorontalo tidak ingin lomba ini sekadar menjadi acara seru-seruan internal. Agar hasilnya benar-benar berkualitas, mereka menggandeng kalangan akademisi sebagai dewan juri dan penyusun materi.
Salah satunya adalah pengamat hukum nasional sekaligus dosen Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Dr. Azmi Syahputra. Selain itu, sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Gorontalo juga ikut dilibatkan.
"Kami libatkan para akademisi supaya tidak dikatakan hanya perlombaan biasa. Ini profesional, akuntabel, kreatif, dan memiliki dasar akademis," tambah Widodo.
Sementara itu, Ketua panitia, Kombes Pol Tulus Sinaga, menjelaskan kompetisi tersebut telah dimulai sejak 19 Juni 2026.
Sebanyak 40 tim dari satuan kerja Polda Gorontalo dan seluruh Polres jajaran ikut ambil bagian.
Setelah melewati babak penyisihan, hanya lima tim yang berhasil lolos ke grand final, yakni Direktorat Intelkam, Direktorat Polair, Polres Boalemo, Polres Pohuwato, dan Polres Gorontalo Utara.
Menurut Tulus, tujuan utama kegiatan ini adalah menyamakan pemahaman seluruh personel terhadap substansi KUHP dan KUHAP yang baru sehingga penerapannya di lapangan tidak berbeda-beda.
Sebab, hukum yang baru tidak cukup hanya disimpan di rak perpustakaan atau dibaca saat pendidikan. Cepat atau lambat, aturan itu akan menjadi pegangan polisi ketika menerima laporan masyarakat, melakukan penyelidikan, hingga menangani perkara pidana.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.