Lapas Kelas IIA Gorontalo mengajak warga binaan belajar bertani melalui program hidroponik. Sawi dan ketimun ditanam di green house sebagai bagian dari pembinaan kemandirian sekaligus upaya memberi peluang penghasilan bagi warga binaan.
***
BERINTI.ID, Kota Gorontalo — Kalau selama ini kata "lapas" lebih sering membuat kita membayangkan tembok tinggi, pintu besi, dan segala macam aturan ketat, Lapas Kelas IIA Gorontalo sedang mencoba menghadirkan suasana yang sedikit berbeda.
Di sana, warga binaan mulai diajak bercocok tanam menggunakan metode hidroponik. Bukan sekadar supaya punya kegiatan selama menjalani masa pembinaan, tetapi juga supaya setelah panen ada hasil penjualan dan premi untuk mereka.
Program itu diwujudkan melalui pencanangan green house yang menjadi bagian dari pembinaan kemandirian warga binaan.
Kepala Lapas Kelas IIA Gorontalo, Junaidi Rison, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang sebagai sarana pembinaan sekaligus pelatihan keterampilan.
"Ini salah satu rangkaian kegiatan warga binaan dalam hal pembinaan kemandirian. Kami punya program kegiatan kemandirian dengan membuat green house," kata Junaidi usai pencanangan, Jumat, 7 Agustus 2026.
Jadi, konsepnya kurang lebih begini: warga binaan belajar menanam, tanaman tumbuh, kemudian dipanen, lalu dijual. Dari hasil penjualan itu, warga binaan yang terlibat bisa mendapatkan premi.
Dengan kata lain, sayuran yang ditanam tidak cuma punya tugas mulia menjadi sayuran. Ia juga diharapkan punya nilai ekonomi.
Junaidi mengatakan kegiatan hidroponik tersebut baru dimulai dan masih dalam tahap penanaman. Warga binaan dilibatkan langsung karena memang program tersebut ditujukan untuk mereka.
Selain mendapatkan keterampilan, mereka nantinya dapat menerima premi dari hasil kegiatan tersebut.
"Di samping kami melakukan pembinaan dan pelatihan kepada mereka, manfaat yang lebih besar lagi mereka nanti akan mendapatkan premi daripada hasil kegiatan ini," jelas Junaidi.
Program ini juga hendak disambungkan dengan agenda ketahanan pangan pemerintah. Jadi, bukan cuma menanam untuk kemudian difoto, diposting, lalu selesai.
Hasil hidroponik nantinya akan dijual kepada vendor yang mengelola bahan makanan untuk warga binaan. Dengan begitu, Lapas Kelas IIA Gorontalo sudah memiliki calon pasar untuk hasil panen mereka.
"Untuk pasarnya kami sudah ada," kata Junaidi.
Untuk tanaman yang akan dibudidayakan, ada sawi dan ketimun. Namun, urusan ketimun ini rupanya tidak sesederhana "tanam ketimun, lalu tunggu matang".
Lapas juga akan mencoba jenis ketimun yang disebut ketimun giyok.
Jenis tanaman tersebut akan diuji coba di dalam program hidroponik tersebut. Soal hasilnya bagaimana, tentu masih harus menunggu.
"Kami akan uji coba juga, mudah-mudahan sukses," ujar Junaidi.
Pada akhirnya, green house itu bukan cuma soal bagaimana membuat sawi dan ketimun tumbuh di dalam lingkungan lapas.
Ada gagasan yang lebih besar di baliknya. Yaitu, bagaimana warga binaan bisa memiliki keterampilan, menghasilkan sesuatu, dan merasakan manfaat ekonomi dari pekerjaan yang mereka lakukan.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.