Keterbatasan sinyal dan akses internet tidak menghalangi BI Gorontalo membawa edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah ke wilayah pelosok Bone Bolango. Program itu menyasar pelajar dan masyarakat agar mendapat pengetahuan yang sama tentang rupiah seperti warga di perkotaan.
***
BERINTI.ID, Bone Bolango — Di kota, edukasi soal rupiah mungkin tinggal mengumpulkan peserta, menyalakan proyektor, lalu memastikan jaringan internet tidak tiba-tiba ngambek.
Di pelosok, ceritanya berbeda.
Untuk sampai ke SD Negeri 7 Bone, Desa Ilohuuwa, Kabupaten Bone Bolango, akses jalan dan internet masih menjadi tantangan. Sinyal pun belum tentu bersedia diajak bekerja sama.
Namun bagi BI Gorontalo, keterbatasan akses bukan alasan untuk membuat edukasi tentang rupiah berhenti di tengah jalan.
Melalui program Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah (CBP Rupiah), BI Gorontalo berupaya membawa edukasi tentang uang rupiah tidak hanya ke masyarakat perkotaan, tetapi juga ke sekolah dan masyarakat di wilayah yang aksesnya terbatas.
Program tersebut menyasar dua kelompok utama, yakni pelajar dan masyarakat.
Selama ini, kegiatan edukasi CBP Rupiah lebih banyak dilakukan di wilayah perkotaan. Karena itu, BI Gorontalo kemudian mengembangkan program khusus untuk menjangkau wilayah pelosok dengan menggandeng komunitas 1.000 Guru Gorontalo.
Tujuannya sederhana, biar anak-anak di pelosok tidak boleh mendapat pelajaran tentang rupiah lebih sedikit hanya karena rumah dan sekolah mereka jauh dari pusat kota.
"Edukasi Cinta Bangga Paham Rupiah ini supaya masyarakat sama dengan anak-anak siswa yang di daerah pelosok yang aksesnya terbatas juga memiliki hak dan kesempatan yang sama," ujar Deputi KPwBI Gorontalo, M. Andi Destriyan.
Ketiadaan internet di lokasi kegiatan mungkin terdengar seperti masalah besar di zaman ketika hampir semua hal bisa dicari lewat mesin pencarian.
Tetapi untuk BI Gorontalo, edukasi rupiah tidak harus bergantung pada koneksi internet.
Justru wilayah yang aksesnya terbatas menjadi salah satu alasan mengapa program tersebut perlu dibawa langsung ke masyarakat.
Sebelum menentukan lokasi, pihak BI terlebih dahulu melakukan pemetaan dan survei untuk melihat wilayah mana yang menjadi prioritas.
Tahun ini, BI Gorontalo memfokuskan program tersebut di empat wilayah, Desa Olibu di Kabupaten Boalemo, Desa Dudepo di Kabupaten Gorontalo Utara, Desa Pangahu di Kabupaten Gorontalo, dan Desa Ilohuuwa di Kabupaten Bone Bolango.
Tidak bisa asal tunjuk lokasi lalu berangkat. Wilayah yang akan didatangi harus dipastikan benar-benar membutuhkan dan memungkinkan untuk dilakukan kegiatan edukasi.
"Biasanya teman-teman di sini akan memetakan wilayah mana yang memang menjadi prioritas. Ada surveinya dulu, kita lihat ini betul-betul layak atau tidak," jelas Destriyan.
Perencanaan untuk wilayah terpencil juga membutuhkan waktu lebih panjang. Maklum, kalau menuju lokasi saja membutuhkan perjuangan, membuat programnya tentu tidak bisa menggunakan prinsip gas dulu, lalu mikir kemudian.
Namun keterbatasan jalan, internet, dan sinyal tidak membuat program tersebut batal.
"Memang betul akses internet dan sebagainya terbatas. Tapi itu justru bukan menjadi penghalang. Edukasi rupiah tetap bisa jalan," kata Destriyan.
Dalam kegiatan tersebut, edukasi tidak hanya ditujukan kepada siswa.
Masyarakat juga diajak terlibat melalui berbagai kegiatan dan perlombaan agar pesan mengenai CBP Rupiah tidak berhenti sebagai materi yang didengar lalu menguap begitu saja.
Konsepnya adalah membuat masyarakat berkumpul, mengikuti kegiatan, sekaligus mengenal lebih jauh bagaimana memperlakukan dan menggunakan rupiah.
Ada tiga pesan utama yang ingin ditanamkan BI Gorontalo terkait CBP Rupiah.
Pertama, cinta rupiah. Masyarakat dan pelajar diajak mengenali sekaligus merawat rupiah dengan baik.
Kedua, bangga rupiah. Rupiah bukan sekadar alat pembayaran, tetapi juga simbol kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ketiga, paham rupiah. Masyarakat diajak menggunakan uang secara bijak, tidak boros, serta membangun kebiasaan menabung.
Dengan begitu, rupiah tidak berhenti sebagai benda yang berpindah tangan ketika membeli jajanan di kantin. Ada pengetahuan dan kebiasaan yang diharapkan ikut berpindah bersama setiap lembar uang yang digunakan.
Pada akhirnya, program ini bukan sekadar soal membawa materi edukasi ke daerah yang jauh dari kota.
Ada pesan yang lebih sederhana yaitu lokasi tempat seseorang tinggal semestinya tidak menentukan seberapa besar kesempatan mereka memperoleh pengetahuan.
Anak-anak sekolah di daerah yang internetnya lancar dan anak-anak yang bahkan harus belajar tanpa sinyal tetap memiliki hak yang sama untuk mengenal rupiah.
Sebab kalau edukasi hanya rajin datang ke tempat yang jalannya mulus dan sinyalnya penuh, namanya bukan pemerataan. Itu cuma memilih tempat yang gampang.
BI Gorontalo berharap pengetahuan tentang CBP Rupiah yang diberikan kepada pelajar dan masyarakat di wilayah pelosok tidak berhenti ketika kegiatan selesai.
Mereka diharapkan bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan merawat rupiah, bangga menggunakannya, serta mengelola uang dengan lebih bijak.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.