TikTok Logo X Logo
Logo
Hulonthalo

Nobar Film Pesta Babi di Gorontalo: Saat Papua Diputar di Layar, Sampul Belakang Menoleh Daerah Sendiri

$detailB['caption'] Suasana nobar film dokumenter Pesta Babi yang digelar oleh komunitas literasi Sampul Belakang (istimewa)

Pemutaran film dokumenter Pesta Babi terkait Kolonialisme di Zaman Kita bukan cuma jadi agenda nonton bareng biasa di Gorontalo. Lewat diskusi yang digelar komunitas literasi Sampul Belakang, cerita tentang Papua itu justru memantik obrolan panjang soal hutan, pangan lokal, dan arah pembangunan di Gorontalo sendiri.

***

BERINTI.ID, Gorontalo - Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale lagi ramai diputar di banyak kota. 

Tapi di Gorontalo, film itu tak cuma ditonton sambil duduk manis dan tepuk tangan di akhir acara.

Film itu justru bikin orang mulai bertanya, jangan-jangan yang terjadi di Papua, pelan-pelan juga sedang terjadi di Gorontalo. 

Pertanyaan itu muncul dalam agenda nobar dan diskusi yang digelar komunitas literasi Sampul Belakang, Rabu 29 April 2026. 

Diskusinya tidak berhenti soal Papua, tapi melebar sampai urusan jagung, hutan, dan arah pembangunan di Gorontalo sendiri.

Koordinator Sampul Belakang, Fikar Buntuan, bilang film tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat adat Papua berusaha mempertahankan tanah dan ruang hidup mereka di tengah gempuran Proyek Strategis Nasional (PSN).

Di layar, masyarakat adat digambarkan hidup berdampingan dengan alam yang hanya mengandalkan sagu, umbi-umbian, hasil buruan, dan hutan sebagai sumber kehidupan. Tapi perlahan, ruang hidup itu berubah ketika pembukaan lahan besar-besaran masuk atas nama pembangunan.

"Papua seperti diperlakukan sebagai ruang kosong yang bebas dimanfaatkan," kata Fikar.

Kalimat itu terasa menampar karena diskusi kemudian mengarah ke Gorontalo. Direktur Eksekutif WALHI Gorontalo, Defri Sofyan, menyebut pola yang mirip mulai terlihat di daerah ini.

Contohnya soal pangan lokal. Jagung lokal Gorontalo, "milu kiki", yang dulu dikenal tahan cuaca dan hama, kini mulai ditinggalkan. Posisi itu digeser jagung hibrida yang dianggap lebih cepat panen dan lebih menguntungkan pasar.

Masalahnya, kata Defri, hasil jagung itu bukan lagi untuk pangan masyarakat, melainkan lebih banyak masuk ke rantai industri pakan ternak.

"Pangan lokal kita makin tergeser," tutur Defri. 

Belum selesai di situ, Defri juga menyinggung soal Hutan Tanaman Energi (HTE) di Pohuwato yang digunakan untuk produksi wood pellet. 

Berdasarkan riset WALHI, deforestasi akibat aktivitas tersebut mencapai lebih dari seribu hektare dalam kurun dua tahun, 2021 hingga 2023.

Ironisnya, program yang sering dibungkus narasi "energi hijau" itu justru disebut menggantikan hutan alam dengan tanaman industri.

"Katanya tidak merusak alam, padahal hutan alam ditebang lalu dijadikan wood pellet," kata Defri.

Diskusi malam itu akhirnya terasa lebih dari sekadar bedah film. Papua memang diputar di layar, tapi keresahannya terasa dekat dengan Gorontalo.

Karena kadang, sebuah daerah baru sadar sedang kehilangan sesuatu ketika melihat cerita yang sama terjadi di tempat lain lebih dulu.


Mau dapatkan informasi terbaru yang menarik dari kami? Ikut WhatsApp Channel Berinti.id. Klik disini untuk gabung.

Foto Profil

Husnul Puhi

Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.

×

Search

WhatsApp Icon Channel WhatsApp