Ratusan umat Hindu di Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, mengarak ogoh-ogoh keliling kampung sebagai bagian dari tradisi menyambut Hari Raya Nyepi. Ini simbol untuk membersihkan sifat negatif sebelum memasuki hari suci yang penuh keheningan.
***
BERINTI.ID, Kabupaten Boalemo - Malam di Desa Bongo 4, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, biasanya sunyi seperti desa pada umumnya.
Namun menjelang Hari Raya Nyepi 2026, suasananya berubah total, lebih ramai, lebih hidup, dan penuh cahaya dari obor yang berderet sepanjang jalan.
Ratusan umat Hindu turun ke jalan, bukan untuk pawai biasa, tapi untuk mengarak ogoh-ogoh, patung besar yang bentuknya kadang menyeramkan, kadang juga bikin anak kecil penasaran setengah takut. Pada Rabu malam, 18 Maret 2026.
Tiga ogoh-ogoh diarak keliling kampung dengan iringan musik gamelan yang ritmis, berpadu dengan langkah kaki warga yang berjalan pelan tapi pasti. Suasananya bukan sekadar meriah, tapi juga terasa sakral.
Di balik bentuk ogoh-ogoh yang mencolok itu, ada makna yang tidak main-main.
Ketua Parisadha Desa Bongo 4, Wayan Srinata, menjelaskan bahwa ogoh-ogoh itu merupakan simbol dari butha kala, suatu representasi sifat-sifat negatif yang ada di alam dan dalam diri manusia.
Mengarak ogoh-ogoh keliling kampung bukan sekadar tradisi turun-temurun. Ada keyakinan bahwa prosesi ini menjadi cara untuk “membersihkan” hal-hal buruk tersebut.
"Ogoh-ogoh ini merupakan salah satu tradisi umat Hindu sejak tahun 60-an. Jadi ini merupakan simbol untuk membersihkan diri dari hal-hal negatif," ujar Srinata.
Sederhananya, ini seperti cara kolektif masyarakat untuk bilang, bahwa yang buruk-buruk, kita keluarkan dulu sebelum masuk ke fase hening.
Menariknya, tradisi ini tidak hanya jadi milik satu kelompok saja. Di tengah keberagaman masyarakat Desa Bongo 4, suasana arak-arakan berlangsung penuh toleransi. Warga dari berbagai latar belakang ikut menyaksikan, bahkan ikut meramaikan.
Suasana itu seolah semua sepakat, ini bukan sekadar ritual agama, tapi juga perayaan kebersamaan.
Setelah diarak keliling kampung, ogoh-ogoh itu tidak disimpan atau dipajang. Justru sebaliknya, yaitu dibakar.
Pembakaran ini bukan aksi destruktif tanpa makna, tapi simbol pelepasan. Sifat-sifat negatif yang tadi diwakili ogoh-ogoh dianggap ikut lenyap bersama api.
"Sesuai ajatan kita umat Hindu, kegiatan mengarak ogoh-ogoh ini akan berakhir dengan proses pembakaran," tutur Srinata menjelaskan.
Lalu, keesokan harinya, suasana berubah 180 derajat.
Umat Hindu memasuki Hari Raya Nyepi dengan menjalankan Catur Brata Penyepian. Yaitu dengan tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak menikmati hiburan.
"Mari kita sama-sama menjaga proses Catur Brata Penyepian esok hari, agar tujuan kita untuk melaksanakan Nyepi sesuai dengan tema yaitu kita semua adalah saudara, satu bumi satu keluarga," tandasnya.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.