P4MI Gorontalo ungkap 30 warga Gorontalo bekerja ilegal di Kamboja. Baru 7 orang berhasil ditangani untuk dipulangkan. Kamboja dinilai berisiko karena tidak ada MoU perlindungan tenaga kerja dengan Indonesia, meski iming-iming gaji tinggi menarik minat.
***
BERINTI.ID, Gorontalo – Pos Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P4MI) Gorontalo mengungkapkan ada 30 warga Gorontalo yang diduga bekerja secara ilegal di Kamboja.
Dari jumlah itu, baru tujuh orang yang berhasil ditangani dan sedang dalam proses pemulangan ke Indonesia.
Koordinator P4MI Gorontalo, Sutrisno, menjelaskan bahwa Kamboja bukanlah negara tujuan resmi penempatan pekerja migran Indonesia.
Negara tersebut juga tidak memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan Indonesia terkait perlindungan tenaga kerja asing.
“Negara Kamboja tidak punya MoU terkait perlindungan tenaga kerja asing dengan Indonesia. Jadi, kami tidak menyarankan warga mencari pekerjaan di negara yang tidak memiliki kerjasama resmi,” kata Sutrisno.
Menurutnya, berdasarkan informasi dari para informan, sekitar 30 warga Gorontalo kini bekerja di Kamboja tanpa dokumen resmi.
Sutrisno memaparkan, dalam dua tahun terakhir terdapat 44 warga Gorontalo yang bekerja di luar negeri secara resmi (prosedural).
Sementara itu, tujuh pekerja non-prosedural asal Gorontalo saat ini sedang ditangani untuk dipulangkan.
Salah satunya adalah Agus Hilimi, yang kasusnya sempat viral di media sosial.
“Untuk pekerja migran non-prosedural dari Gorontalo, tren saat ini memang ke negara Kamboja,” ujarnya.
Lebih lanjut, Sutrisno menjelaskan faktor utama warga Gorontalo memilih bekerja di Kamboja adalah alasan ekonomi.
Banyak perusahaan di sana menawarkan gaji tinggi dengan proses perekrutan yang terkesan mudah dan gratis.
“Motivasi pekerja migran itu biasanya karena tawaran gaji yang besar. Tapi banyak yang tidak tahu pekerjaan apa yang akan mereka jalani di sana. Prosesnya juga terkesan mudah, bahkan gratis, sehingga menarik minat,” tutur Sutrisno.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.