Ada banyak cara membuka lahan. Bisa pakai alat, bisa pakai tenaga, bisa pula menunggu hujan. Tapi di Gorontalo, sebagian orang rupanya masih memilih cara yang paling gampang sekaligus paling bikin repot, yaitu dengan cara membakar.
***
BERINTI.ID, Gorontalo — Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi persoalan di Provinsi Gorontalo. Selain kondisi lahan yang kering, aktivitas manusia disebut menjadi salah satu pemicu utama terjadinya kebakaran.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo, Tahir Laendeng, mengatakan kebakaran lahan di Gorontalo paling banyak disebabkan oleh pembukaan lahan dengan cara membakar.
"Yang paling banyak adalah pembukaan lahan secara membakar. Ini yang paling banyak terjadi," ujar Tahir.
Menurutnya, kejadian tersebut lebih banyak terjadi pada kawasan lahan berhutan, bukan kawasan hutan. Pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi salah satu aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama ketika kondisi lingkungan sedang kering.
Selain pembukaan lahan, puntung rokok yang dibuang sembarangan juga dapat menjadi pemicu kebakaran.
Risiko tersebut semakin besar di wilayah yang mengalami kekeringan, terutama ketika puntung rokok mengenai vegetasi yang mudah terbakar seperti pepohonan dan bambu.
Tahir mencontohkan kejadian di Kecamatan Suwawa yang berdasarkan informasi diterima BPBD diduga dipicu oleh puntung rokok yang dibuang sembarangan.
"Di beberapa tempat, contohnya di Suwawa, kemarin informasinya puntung rokok," kata Tahir.
Selain itu, aktivitas membakar sampah tanpa pengawasan juga menjadi salah satu penyebab karhutla. Api yang awalnya digunakan untuk membakar sampah dapat merembet ke area sekitar, terlebih ketika kondisi lahan sedang kering.
BPBD Provinsi Gorontalo mencatat kejadian karhutla terus terjadi selama periode kemarau. Berdasarkan informasi titik panas dari BMKG, terdapat rata-rata sekitar 20 titik panas setiap hari.
Jika dihitung sejak Juli hingga Agustus, terdapat kurang lebih seratusan titik api yang berkaitan dengan kejadian kebakaran.
"Kalau kita totalkan dari sejak bulan Juli ke Agustus itu sudah kurang lebih seratusan titik api yang terjadi," tutur Tahir.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebakaran lahan menjadi persoalan yang perlu diwaspadai, terutama ketika musim kemarau menyebabkan vegetasi lebih mudah terbakar.
Sementara, berdasarkan laporan yang diterima BPBD Provinsi Gorontalo, luas lahan yang terbakar dalam setiap kejadian rata-rata mencapai sekitar satu hektare.
Jika seluruh kejadian dikalkulasikan, luas lahan yang terbakar di sejumlah wilayah Provinsi Gorontalo telah mencapai puluhan hektare.
"Kalau kita kalkulasi ya sudah puluhan hektar yang terbakar, khususnya lahan yang ada di Provinsi Gorontalo," tutup Tahir.
Meski kebakaran telah melanda puluhan hektare lahan, BPBD memastikan hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat karhutla di Gorontalo.
Namun, kebakaran tetap menimbulkan kerugian bagi masyarakat, terutama petani dan warga yang memanfaatkan hasil lahan sebagai sumber penghasilan.
Salah satunya adalah tanaman bambu yang terbakar. Bambu yang sebelumnya disiapkan masyarakat untuk dijual akhirnya tidak dapat dimanfaatkan kembali setelah dilalap api.
BPBD pun mengingatkan masyarakat untuk lebih berhati-hati saat beraktivitas di lahan, terutama selama kondisi musim kemarau.
Membuka lahan dengan cara membakar, bakar sampah tanpa pengawasan, hingga membuang puntung rokok sembarangan dapat meningkatkan risiko terjadinya karhutla di Gorontalo.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.