Kenaikan harga plastik di Gorontalo memaksa pedagang minuman mencari cara bertahan agar pelanggan tidak kabur. Alih-alih menaikkan harga jual, sebagian pedagang memilih mengurangi volume minuman sebagai siasat menghadapi lonjakan biaya kemasan.
***
BERINTI.ID, Kota Gorontalo - Lonjakan harga plastik di Gorontalo mulai berdampak langsung ke pedagang minuman.
Di Kota Gorontalo, kenaikan harga plastik mulai terasa sampai ke level paling praktis, seperti gelas minuman dan tas kresek.
Di Toko Plastik Gajah, misalnya, harga beberapa jenis plastik naik sampai 70 persen sejak dua pekan setelah Lebaran.
Masalahnya bukan sekadar harga naik. Tapi juga soal kelangkaan.
Menurut Liya, pengelola toko tersebut, banyak pabrik sekarang memilih close order, karena stok bahan baku memang lagi seret.
Akibatnya, rak-rak toko mulai bolong di sana-sini. Kalau pun ada barang, harganya sudah tidak seperti dulu. Para pedagang pun terpaksa berburu stok ke berbagai pabrik, sekadar supaya Gorontalo tidak benar-benar kehabisan plastik.
Nah, yang paling kena dampaknya tentu saja para pedagang minuman. Mereka ini yang tiap hari bergantung pada gelas plastik sebagai wadah utama rezeki.
Salah satunya Juwariyah. Ia mengaku kenaikan harga ini sudah mulai dikeluhkan pelanggan. Tapi alih-alih menaikkan harga, ia memilih strategi yang lebih halus yaitu isi minuman dikurangi.
"Kalau naikkan harga itu susah, konsumen bisa-bisa lari," kata Juwariyah saat ditemui sedang belanja plastik, Rabu, 8 April 2026.
Jadi sekarang, bukan harga yang naik, tapi volume yang turun. Sedikit demi sedikit, tanpa pengumuman resmi.
Selain itu, Juwariyah juga mulai mengubah pola belanja. Kalau dulu bisa beli satu karton, sekarang cukup per pack saja. Hal ini agar diringa tidak sampai rugi.
Cerita serupa datang dari Thomas, pedagang kopi di Pasar Sentral Kota Gorontalo. Ia bilang kenaikan harga plastik ini terasa banget di kantong.
Dulu, satu pack gelas isi 25 cup dibeli sekitar Rp21 ribu. Sekarang sudah tembus Rp25 sampai Rp26 ribu. Selisihnya mungkin kelihatan kecil, tapi kalau dihitung harian, ya lumayan bikin pusing.
"Sangat terasa, naiknya sampai Rp4-5 ribu per pack," kata Thomas.
Sama seperti pedagang lainnya, Thimas juga memilih menahan harga jual. Tapi konsekuensinya, ya itu tadi, volume minuman dikurangi sedikit. Bukan karena pelit, tapi karena keadaan.
Kalau kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin pedagang akhirnya benar-benar menaikkan harga. Tapi untuk sekarang, mereka masih berusaha bertahan dengan cara yang mungkin tidak langsung terasa, tapi perlahan bisa disadari.
"Kalau harga bahan baku plastik ink tetap naik, kami terpaksa menaikan harga minuman," tutup Thomas.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.