Setelah puluhan tahun menyisihkan tabungan sedikit demi sedikit, jemaah calon haji tertua asal Gorontalo ini kini bersiap berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Simak cerita selengkapnya berita di bawah ini.
***
BERINTI.ID, Gorontalo - Langkah kaki Salim Potutu Tomayahu terlihat pelan saat memasuki Aula Asrama Haji Gorontalo, Sabtu malam, 9 Mei 2026.
Di usianya yang telah 85 tahun, ia menggenggam erat tas kecilnya sambil sesekali menoleh kepada anak keduanya, Syarif Potutu, yang setia mendampinginya.
Di tengah ramainya ratusan jemaah calon haji yang bersiap menuju Tanah Suci, Salim menjadi sosok yang mencuri perhatian. Bukan hanya karena ia merupakan jemaah tertua asal Gorontalo tahun ini, tetapi juga karena cerita panjang di balik keberangkatannya.
Perjalanan Salim menuju Baitullah bukan perjalanan singkat. Bertahun-tahun lamanya ia menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk satu impian yang ia simpan sejak muda yakni menunaikan ibadah haji.
"Simpanan awal ada, baru kemudian ditambah dari tabungan," kata Salim lirih.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi di baliknya, ada puluhan tahun kerja keras dan kesabaran yang tak sebentar.
Salim merupakan pensiunan tenaga kesehatan. Sebelum pensiun pada 1997, ia pernah bertugas di Boalemo, saat wilayah itu masih menjadi bagian dari Kabupaten Gorontalo. Dari pekerjaannya itulah, ia mulai menyimpan uang untuk biaya haji.
Namun hidup tak selalu berjalan mudah. Ia harus membesarkan lima orang anak bersama istrinya. Waktu terus berjalan, kebutuhan keluarga datang silih berganti, sementara ongkos naik haji terus berubah.
Hingga akhirnya pada 2020, Salim baru bisa mendaftarkan dirinya untuk mendapatkan porsi haji.
Kini, enam tahun setelah mendaftar, kesempatan itu akhirnya datang.
Di masa tuanya, Salim sudah kehilangan banyak hal. Sang istri telah lebih dulu meninggal dunia. Dua dari lima anaknya pun sudah berpulang.
Kini ia tinggal bersama anak-anak yang masih ada, termasuk Syarif yang memilih mendampingi ayahnya selama perjalanan ibadah nanti.
Meski usia tak lagi muda, semangat Salim tetap terasa kuat. Ia mengikuti setiap tahapan penerimaan jemaah dengan tenang. Pemeriksaan kesehatan, pengambilan gelang identitas, hingga proses administrasi dijalaninya perlahan bersama sang anak.
Baginya, berhaji bukan sekadar perjalanan ibadah biasa. Ada pesan lama yang terus ia pegang sejak muda.
"Tidak ada gunanya mendapatkan sesuatu kalau tidak dipergunakan untuk naik haji," ujarnya mengingat nasihat orang tua terdahulu.
Salim percaya, rezeki yang diberikan Tuhan sebaiknya digunakan untuk hal-hal yang membawa kebaikan. Dan di penghujung usianya, ia ingin menyempurnakan rukun Islam kelima itu.
Di sela proses keberangkatan, Salim juga bercerita tentang doa yang selalu ia panjatkan agar tetap sehat hingga bisa tiba di Tanah Suci.
"Meminta kepada Yang Maha Kuasa supaya dipanjangkan umur dan disembuhkan dari penyakit. Dokter itu hanya perantara, tapi Tuhan yang menyembuhkan," katanya.
Beberapa jam lagi, Salim bersama ratusan jemaah lainnya akan berangkat menuju embarkasi Makassar sebelum melanjutkan perjalanan ke Arab Saudi. Jika sesuai jadwal, ia diperkirakan tiba di Jeddah pada Senin sore, 11 Mei 2026.
Bagi banyak orang, perjalanan haji mungkin soal tiket, koper, dan jadwal penerbangan. Tapi bagi Salim, perjalanan itu adalah cerita tentang kesabaran panjang, kehilangan, doa yang tak putus, dan mimpi yang akhirnya sampai juga di depan pintu keberangkatan.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.