Begini rentetan peristiwa pengeroyokan yang dialami salah satu siswi SMA di Kota Gorontalo. Ibu dari korban yang menceritakan kronologi lengkapnya berdasarkan curhatan anaknya. Simak selengkapnya berita di bawah ini.
***
BERINTI.ID, Kota Gorontalo - Senin sore itu mestinya biasa saja. Seorang siswi kelas XI di salah satu SMA negeri di Kota Gorontalo pamit kepada ibunya untuk bertemu teman.
Tidak ada firasat buruk. Tidak ada pula tanda-tanda akan pulang membawa luka yang paling parah justru tak kasatmata.
"Dia bilang cuma kumpul sebentar, naik ojek online," kata HD, ibu korban, saat ditemui, pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Selama ini, anaknya dikenal pendiam. Tipe yang lebih memilih menyimpan cerita daripada membaginya ke mana-mana.
Menurut HD, anaknya itu tak pernah terlibat perkelahian, tidak pernah punya catatan masalah. Karena itu, HD tak merasa perlu curiga.
Namun, setibanya di lokasi pertemuan, situasi ternyata jauh dari dugaan. Putrinya telah ditunggu oleh tiga remaja perempuan. Salah satunya teman sekelas. Orang yang dikenalnya cukup dekat dan belakangan diduga menjadi otak dari permasalahan.
Awalnya hanya obrolan. Setidaknya begitu yang dibayangkan korban. Tapi percakapan berubah arah. Masuk ke wilayah persoalan pribadi yang bahkan tak sepenuhnya dipahami korban.
Merasa tempat itu tak aman untuk melanjutkan pembicaraan, korban justru dibawa ke lokasi lain yaitu di salah satu lapangan berlokasi di Jalan H.B Jassin, bagian belakangnya minim penerangan.
"Anak saya sudah minta persoalan ini diselesaikan di rumah tempat mereka janjian. Bahkan pemilik rumah sempat melarang mereka pergi. Tapi tetap dibawa," tutur HD menjelaskan kronologi kejadian.
Korban pun ikut. Bukan karena takut, tapi karena percaya. Ia tak pernah menyangka bahwa pertemuan itu akan berubah menjadi pengalaman paling menakutkan dalam hidupnya.
Setibanya di lokasi, situasi memburuk. Ponsel korban sempat diambil. Adu mulut tak terhindarkan. Lalu kekerasan pun terjadi.
HD menceritakan dengan suara bergetar bagaimana anaknya diperlakukan. Rambut ditarik, tubuh didorong, hingga pukulan datang bergantian.
Bagi anak yang bahkan tak terbiasa dibentak, peristiwa itu menjadi hantaman besar, bukan hanya fisik, tapi juga batin.
Beberapa remaja lain datang. Ada yang mencoba melerai. Ada pula yang justru menahan. Hingga akhirnya, sekelompok remaja lain menghentikan kejadian itu dan membawa korban menjauh dari lokasi.
Usai dari itu, Kata HD, anaknya bersembunyi di rumah temannya untuk menjauhi kekerasan yang diperlakukan teman-temannya tersebut.
Hingga akhirnya, kabar kejadian ini sampai ke HD lewat pesan dan foto dari orang tua teman korban. Saat melihatnya, HD langsung menuju lokasi.
"Saya lihat anak saya dalam kondisi luka, syok, dan ketakutan," ujarnya singkat.
Melihat anaknya dalam kondisi tersebut, HD langsung membawa anaknya untuk mendapatkan penanganan medis. Kemudian, HD melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian.
Husnul Puhi
Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.