TikTok Logo X Logo
Logo
Hulonthalo

Tahun Baru Tak Pakai Kembang Api, Kabupaten Gorontalo Justru Kebagian Banjir

$detailB['caption'] Potret bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Gorontalo pada 30 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 (Kolase foto BPBD Kabupaten Gorontalo dan Berinti.id)

Kabupaten Gorontalo akhir-akhir ini sering dilanda bencana banjir. Tak tanggung-tanggung, ribuan warga dan delapan kecamatan terdampak pada kejadian tersebut. 

***

BERINTI.ID, Kabupaten Gorontalo - Alih-alih meniup terompet atau sibuk hitung mundur menuju 2026, ribuan warga Kabupaten Gorontalo justru mengawali tahun dengan aktivitas yang kurang ramah dompet, yaitu menyelamatkan barang berharga dari terjangan banjir. 

Momen pergantian tahun 2025–2026 berubah jadi agenda evakuasi massal, lengkap dengan lumpur dan arus air yang tak kenal kompromi.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gorontalo mencatat, sedikitnya 1.053 kepala keluarga atau 3.848 jiwa terdampak banjir yang terjadi sejak 30 Desember 2025 dan Minggu, 4 Januari 2026.

Kasi Kedaruratan BPBD Kabupaten Gorontalo, Taha Buheli, menyebut banjir bandang ini dipicu hujan dengan intensitas tinggi yang turun tanpa jeda berjam-jam. 

Wilayah dengan slogan Dulo Ito Momongu Lipu itu akhirnya kewalahan menampung air dari hulu.

"Curah hujan tinggi dan terus-menerus membuat sungai-sungai tidak mampu menampung debit air. Akhirnya meluap ke permukiman," kata Taha saat ditemui di kantornya, Senin, 5 Januari 2026.

Banjir tercatat melanda delapan kecamatan: Limboto Barat, Tibawa, Pulubala, Bilato, Tolangohula, Mootilango, Boliyohuto, dan Telaga. 

Dari jumlah itu, lima kecamatan lebih dulu diterjang banjir pada 30 Desember, yakni Tibawa, Pulubala, Limboto Barat, Bilato, dan Boliyohuto.

Pada gelombang pertama banjir tersebut, sebanyak 907 KK atau 3.395 jiwa terdampak. Ratusan rumah terendam, dan aktivitas warga yang terdampak berhenti, kecuali memindahkan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi.

Menurut Taha, aparat pemerintah daerah hingga unsur TNI-Polri turun langsung ke lapangan. Bahkan, ada warga yang menghubungi langsung Bupati Gorontalo sekitar pukul 01.00 Wita dini hari karena terjebak banjir di dalam rumah.

Evakuasi dilakukan menggunakan perahu karet yang dikerahkan BPBD Provinsi Gorontalo, TNI, dan Polri. Meski begitu, tidak semua warga bersedia dievakuasi.

"Ada warga yang memilih tetap di rumah meski air sudah setinggi dada orang dewasa. Mereka hanya minta makanan siap saji, kami pun memenuhi kebutuhan warga ini," ujar Taha. 

Tak hanya rumah warga, sejumlah infrastruktur desa ikut menjadi korban. Beberapa jembatan penghubung dilaporkan rusak berat. 

Jembatan di Desa Molamahu terancam putus akibat tergerus arus sungai, sementara jembatan gantung di Desa Molalahu ambruk dan tak bisa lagi digunakan warga.

Kabar baiknya, banjir besar ini tidak menelan korban jiwa. Saat ini, air di delapan kecamatan tersebut telah surut. Warga mulai membersihkan lumpur, sementara BPBD tetap siaga.

"Kondisi sudah berangsur normal, tapi kami tetap waspada. Awal 2026 ini diprediksi hujan masih akan sering turun dalam dua pekan ke depan," kata Taha.

 

Mau dapatkan informasi terbaru yang menarik dari kami? Ikut WhatsApp Channel Berinti.id. Klik disini untuk gabung.

Foto Profil

Husnul Puhi

Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.

×

Search

WhatsApp Icon Channel WhatsApp