TikTok Logo X Logo
Logo ✖
Hulonthalo

Tangisan Petani Pohuwato Lantaran Ribuan Hektare Sawah Terbengkalai akibat Sedimentasi dari PETI

$detailB['caption'] Seorang petani Pohuwato, Abdurrahman Lukum menjelaskan kondisi petani dan pertanian di Kecamatan Duhiadaa-Buntulia yang ribuan hektare sawah terbengkalai akibat sedimentasi dari PETI

Ribuan hektare sawah di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia, Kabupaten Pohuwato, terbengkalai akibat sedimentasi yang diduga berasal dari aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI). Kondisi ini membuat sekitar 1.700 petani kehilangan sumber penghidupan dan terpaksa mencari pekerjaan lain.

***

BERINTI.ID, Pohuwato — Ada yang ironis dari urusan ketahanan pangan di Kabupaten Pohuwato. Di Kecamatan Duhiadaa dan Buntulia, ribuan hektare sawah yang semestinya menjadi sumber pangan justru terbengkalai. Petaninya masih ada, alat pertaniannya tersedia, tetapi sawah tak lagi bisa diandalkan untuk menghasilkan padi.

Penyebabnya diduga berkaitan dengan kerusakan kawasan hulu akibat aktivitas pertambangan. Material pasir dan lumpur yang terbawa aliran air menyebabkan sedimentasi di bendungan serta saluran irigasi. 

Akibatnya, distribusi air ke lahan persawahan terganggu dan sebagian petani kehilangan kemampuan untuk mengolah sawahnya.

Ketua Gabungan Pengguna Air Irigasi Duhiadaa-Buntulia, Abdurahman Lukum, menyebut kondisi petani di dua kecamatan tersebut semakin memprihatinkan. Bahkan, sejumlah lahan sudah tidak produktif selama satu hingga dua tahun lebih.

"Sekarang kami di Kecamatan Duhiadaa-Buntulia itu petani menangis. Potensi lahan cukup, petani siap, alsintan siap, namun sawah kami sudah terbengkalai dan menjadi lahan tidur. Ini diakibatkan oleh kerusakan hulu akibat tambang," ungkap Abdurahman.

Persoalan ini bukan perkara kecil. Lebih dari 1.400 hektare lahan persawahan dengan sekitar 1.700 petani menggantungkan hidup dari sektor pertanian di Duhiadaa dan Buntulia.

Ketika sawah tak lagi menghasilkan, petani tentu tidak bisa menunggu keajaiban datang bersama musim panen. Sebagian dari mereka terpaksa mencari pekerjaan lain. Ada yang menjadi buruh kasar, ada pula yang bekerja mencari kelapa demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Untuk mencari sesuap nasi, petani sekarang menjadi buruh kasar, menjadi tukang cari kelapa. Itulah istilah kami, petani menangis," tuturnya.

Punya Sawah, Tetapi Harus Beli Beras dari Luar Daerah

Kondisi tersebut terasa semakin ironis ketika dikaitkan dengan program ketahanan pangan pemerintah. Pohuwato memiliki potensi lahan pertanian yang luas, tetapi sebagian masyarakat justru harus membeli beras dari luar daerah, termasuk Makassar.

Bagi Abdurahman, keadaan itu menjadi gambaran bahwa persoalan pertanian tidak cukup diselesaikan dengan mendorong petani menanam padi. Ketersediaan air dan kondisi infrastruktur irigasi juga harus diperhatikan.

"Katanya program pemerintah ketahanan pangan meningkat, tetapi kami petani meningkatkan di mana? Kami punya lahan yang cukup untuk ketersediaan pangan, tetapi masyarakat Pohuwato membeli beras dari luar daerah. Kami membeli dan mengonsumsi beras dari Makassar, padahal kami punya sawah," tutur Abdurrahman. 

Menurutnya, sedimentasi dari kawasan hulu menjadi salah satu persoalan utama yang mengganggu saluran irigasi. Petani yang masih menanam padi saat ini terpaksa memanfaatkan sisa air yang tersedia.

Namun, mereka tidak sepenuhnya tenang. Hujan dengan intensitas tinggi justru dikhawatirkan membawa lebih banyak material pasir dari kawasan hulu, kemudian menutup bendungan dan saluran irigasi.

"Yang sementara panen ini hanya menggunakan sisa air, karena air dari hulu tidak terlalu besar dan sedimentasinya juga tidak terlalu besar. Cuman kekhawatiran kami,  jangan sampai hujan turun, bendungan tertutup pasir. Jelas kami lebih menderita lagi, karena tidak ada air yang masuk," jelasnya.

Ia bahkan membandingkan kondisi sekarang dengan masa sebelum aktivitas pertambangan berkembang. Menurutnya, dahulu petani masih bisa mengandalkan pasokan air irigasi meskipun kemarau berlangsung hingga sembilan bulan.

"Dulu, biar kemarau sembilan bulan sebelum ada tambang, kami petani tidak mengalami krisis air. Sekarang, kalau sudah mau turun hujan, kondisi ini bisa lebih parah lagi," katanya.

PETI dan Aktivitas Perusahaan Ikut Disorot

Abdurahman juga menyoroti aktivitas pertambangan di kawasan hulu yang diduga memperparah sedimentasi. Ia menyebut ada dua jenis aktivitas yang menjadi perhatian petani, yakni Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) dan aktivitas perusahaan.

Menurutnya, sejumlah saluran irigasi diduga telah ditutup dan dialihkan menjadi jalan. Sementara itu, aktivitas PETI disebut melakukan pengerukan saluran hingga ke kawasan hulu.

Ia mengatakan aktivitas pertambangan pada masa lalu tidak memberikan dampak serupa karena masih dilakukan secara manual.

"Memang dulunya ada tambang, tetapi hanya manual dan airnya masih bersih. Pengaruh ke sawah tidak ada," Imbuhnya. 

Petani, kata Abdurahman, sebenarnya telah meminta pemerintah melakukan pengerukan sedimentasi. Namun, upaya tersebut disebut terkendala persoalan anggaran.

Karena itu, ia meminta pemerintah daerah tidak hanya melihat persoalan ini sebagai urusan pertambangan, tetapi juga sebagai ancaman terhadap keberlangsungan pertanian dan ekonomi masyarakat.

Ia berharap aktivitas perusahaan, pertambangan, dan pertanian bisa berjalan tanpa harus membuat salah satu pihak kehilangan sumber penghidupan.

"Yang kami minta bagaimana perusahaan jalan, petani jalan. Supaya kita cari hidup. Kami petani berhasil. Bukan kami mendukung PETI, tetapi bagaimana pemerintah melegalkan mereka. Kalau sudah legal, sudah bisa diatur. Kalau sekarang, mereka semaunya saja," tegasnya. 

Di tengah persoalan tersebut, Abdurahman berharap pemerintah daerah turun langsung melihat kondisi persawahan di Duhiadaa dan Buntulia. Ia ingin aspirasi petani didengar sekaligus ada solusi nyata untuk mengembalikan fungsi bendungan dan saluran irigasi.

Sebab, bagi petani, sawah bukan sekadar hamparan tanah yang menunggu musim tanam. Di sanalah sumber penghidupan keluarga diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Abdurahman bahkan memperingatkan bahwa petani bisa mengambil sikap jika lahan persawahan mereka terus dibiarkan tidak berfungsi. Ia menyampaikan dua kemungkinan sebagai bentuk kekecewaan terhadap kondisi yang mereka hadapi.

"Harapannya, ketika hujan turun, kami petani kembali ke sawah. Jika seandainya sawah ini tidak berfungsi lagi, tentunya kami petani akan bersikap. Cuma dua, kami petani kasih rusak gunung atau kami tutup para penambang yang ada di sana," ungkapnya.

Pernyataan itu menggambarkan besarnya kekecewaan petani. Namun, Abdurahman kembali menegaskan bahwa keinginan utama mereka bukanlah berhadapan dengan penambang, melainkan mengembalikan sawah agar bisa ditanami dan menghasilkan padi seperti sebelumnya.

Dampak sawah terbengkalai ternyata juga merembet ke rantai ekonomi pertanian. Para tengkulak yang selama ini menjadi bagian dari perputaran ekonomi petani ikut terdampak karena hasil panen semakin berkurang.

"Apapun yang terjadi, kami petani sawah tetap berharap sawah ini normal kembali. Kasihan kehidupan kami petani sawah, hanya di sawah itu. Kami jujur, kalau tidak hidup dengan pemerintah, kami hidup dengan tengkulak. Hanya saja para tengkulak sudah bangkrut, sudah tutup giliran padi, karena hasil dari petani tidak ada," tutup Abdurrahman.


Mau dapatkan informasi terbaru yang menarik dari kami? Ikut WhatsApp Channel Berinti.id. Klik disini untuk gabung.

Foto Profil

Husnul Puhi

Berawal dari semangat menyuarakan kebenaran, Husnul Puhi terjun ke dunia jurnalistik sejak 2022 dan pernah berkarier di media nasional yang membentuk perspektifnya dalam menyampaikan informasi dan memperkuat tekadnya menjadi suara bagi publik.

×

Search

WhatsApp Icon Channel WhatsApp